Jumat, 01 Maret 2013

PRAKTIKUM BEBERAPA PEMERIKSAAN KESANGGUPAN BADAN

Kesanggupan badan, kebugaran jasmani, atau yang lebih kita kenal dengan istilah kesegaran jasmani adalah seperti yang dimaksud dalam istilah “pysical fitness” merupakan kemampuan dasar tubuh yang sangat penting artinya untuk menunjang efisien kerja seseorang. Pemeriksaan kebugaran jasmani merupakan salas satu persyaratan ujian kesehatan bagi merekan yang akan melakukan tugas-tugas berat, (terutama tugas fisik), seperti calon penerbangan, calon AKABRI, olahragawan dan sebagainya.
Pemeriksaan kebugaran jasmani secar garis besar dapat digolongkan: 1.  Tes/pengukuran laboratorium (non performance test) dan tes/pengukuran bukan laboratorium (performance test-test lapangan) (baca Karpovich, 1971). Dalam kesempatan praktikum kali ini diberikan  beberapa macam percobaan yang dapat dikerjakan secara sederhana (tanpa menggunakan alat-alat yang istimewa). Percobaan tersebut meliputi : 1.  Faal sistema respirasi dan 2.   Faal sistema kardiovakuler.

I.                    TUJUAN
Tujuan praktikim/pemeriksaan kebugaran jasmani adalh untuk :
a.       Mengenal berbagai jenis tes/pengukuran kesanggupan badan/kebugaran jasmani yang sederhana untuk  fungsi statis dan dinamis
b.      Memperoleh pengalaman sebagai penyelanggaraan/naracoba dlam tes/pengukuran kebugaran jasmani

II.                  SARANA DAN NARACOBA
-          Stop watch
-          Metronom
-          Manometer air raksa
-          Bangku setinggi 50cm/46cm
-          Naracoba

III.                TATA KERJA
a.       Percobaan faal sistem respirasi terdiri dari:
1.       Percobaan kekuatan meniup manometer air raksa
Pada percobaan ini naracoba disuruh meniup manometer Hg sekuat-kuatnya dari sikap inspirasi maksimal. Hasil percobaan ini memberi gambaran mengenai kekuatan otot-otot ekspirasi yang secara tidak langsung menunjukkan tingkat kebugaran jasmani pelakunya. Makin tinggi air dapat ditiup , makin kuat otot-otot ekspirasinya dan makin tinggi derajat kebugaran jasmaninya. Kerjakanlah percobaan ini tiga kali bagi setiap bagi naracoba, kemudian ambil nilai rata-ratanya.

Penghargaan:
-          Rata-rata orang sehat sampai 30 tahun mampu meniup sampai 135 mm Hg.
-          Kemampuan meniup kurang dari 110 mm Hg adalah kurang

Pertanyaan :
-          Berapakah kemampuan rata-rata hasil percobaan yang saudara lakukan ?
-          Sebutkan pula otot-otot untuk ekspirasi maksimal

2.       Menahan nafas biasa
Dalam percobaan ini dilakukan tata kerja sebagai berikut : 1.   Naracoba melakukan respirasi dedalam dalamnya dua kali berturut-turut,   2.  Kemudian melakukan inspirasi biasa dan langsung menahan nafas selama mungkin,  3.   Berapa lama mampu menahan nafas tersebut dicatat. Kerjakan percobaan ini tiga kali, ambil rata-ratanya.

Penghargaan : Menahan nafas kurang dari 49 detik adalah kurang

Catatan : Bila dipandang perlu, naracoba diberi penjelasan dan mencoba car mengerjakan menahan nafas biasa tersebut.
3.       Menahan nafas sambil meniup 40 mm Hg
Dalam percobaan ini naracoba melakukan tata kerja sebagai berikut: 1.   Lakukan inspirasi maksimal, kemudian 2.  Tiuplah manometer air raksa sampai angka 40 m Hg, langsung diusul 3.  Tahan nafas selama mungkin dengan mempertahankan tiupan 40 m Hg. Kerjakan percobaan ini tiga kali, ambil nilai rata-ratanya.

Penghargaan :
-          Rata-rata orang sehat (dewasa-muda) mampu menahan nafas sambil meniup 40 mm Hg, selama 45 detik.
-          Manahan nafas kurang dari 25 detik adalah kurang.

Catatan :  Percobaan butir b dan c memberikan gambaran tentang kemampuan tubuh untuk menetralisir pengaruh CO2 melalui mekanisme buffer darah (alkali reserve); pada percobaan butir b dalam keadaan istirahat dan pada butir c dalam keadaan bekerja. Makin lama naracoba dapat manahan nafas, berarti makin besar kemampuan mengatasi zat-zat kelelahan di dalam tubuh dan merupakan gambaran kebugaran jasmani pelakunya.

Pertanyaan :  Adakah perbedaan hasil antara percobaan butir b dengan butir c dari naracoba yang sama. Berikan penjelasannya.

b.      PERCOBAAN FAAL SISTEM KARDIOSVAKULER, TEDIRI DARI :
1.       Lorentz test
Dalam percobaan ini tata cara kerja yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1.       Tentukan denyut nadi istirahat naracoba selama 15 detik selama istirahat (duduk 5-10 menit) :kemusian
2.       Naracoba disuruh melakuan jongkok berdiri 20 kali dalam 20 detik (atas komando/bunyi metronom); selanjutnya
3.       Begitu selesai melakukan jongkok-berdiri, naracoba langsung duduk; setelah itu
4.       Hitung DN pada menit ke 1 (selama selesai laatihan), naracoba langsung duduk; setelah itu
5.       Hintung DN pada menit ke 1 (selama selesai latihan), ke 2, ke 3, dan seterusnya , tiap kali selama 15 detik (seperti pada butir 1,sampai kembali ke DN istirahat.

Pertanyaaan :   
-          Rata-rata orang sehat (dewasa-muda), frekuensi DN-nya kembali ke DN istirahat setelah dua menit
-          DN pemulihan (recovery) kembali ke frekuensi DN istirahat sampai
2 menit                                 =             baik
2-3 menit                             =             sedang
Lebih dari 3 menit            =             kurang
Denyut nadi pemulihan merupakan gambaran kebugaran jasmani seseorang

Pertanyaan :
-          Berikan alasan kenapa denyut nadi pemulihan seseorang merupakan gambaran kebugaran jasmaninya.

2.       Harvard Step-up Test
Harvard Step-up Test merupakan salah satu bentuk tes kebugaran jasmani yang termasuk “performance test” yang dikembangkan semasa PD II. Dalam bentuk aslinya, tes ini dilakukan dengan cara :  1.   Naik turun bangku setinggi 20 inci (50 cm) dengan irama 30 x per menit,   2.    Dikerjakan paling lama 5 menit, kemudian   3.   Naracoba dalam sikap duduk dipantau DN pemulihan setelah menit ke 1, ke 2, dan ke 3, masing-masing selama 30 detik; selanjutnya   4.   Dihitung indeks kebugaran jasmaninya dengan rumus.

Dalam percobaan tata kerja yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1.       Siapkan bangku setinggi 50 cm bagi naracoba pria, atau 46 cm bagi naracoba wanita
2.       Atur metronom pada skala 120 untuk menentukan irama naik turun bangku
3.       Naracoba melakukan naik turun bangku sesuai dengan irama metronom paling lama 5 menit (kecuali badi yang tidak kuat) dengan tanda : irama kacau dan/atau sikap tubuh, tidak tegak lagi, walau telah diperingatkan sampai dua kali; kemudian
4.       Naracoba langsung duduk dan DN pemulihan dengan :
a.       Cara lambat
-          Pertama, pada 1 menit setelah latihan
-          Kedua, pada 2 : 00 – 2 : 30
-          Ketiga, pada 3 : 00 – 3 : 30
b.      Cara cepat
-          Hanya dihitung satu kali pada 1 : 00 – 1 : 30, setelah latihan

5.       Hitung indeks kebugaran jasmaninya dengan rumus
a.       Cara lambat
indeks kebugaran jasmani =         lama latihan (detik) x 100
                                                           2x (jumlah ketiga bilangan DN)
b.      Cara cepat
indeks kebugaran jasmani =     lama latihan (detik) x 100
                                                                                            (5,5 x bilangan DN)

penghargaan :   a.   Cara lambat : 
-          kurang dari 55   = kurang
-          55 – 64                  = rendah
-          65 - 79                   = sedang
-          80 – 89                  = tinggi
-          90 ke atas            = amat tinggi

b.Cara cepat :

-          Kurang dari 50   = kurang
-          50 – 80                  = sedang
-          Lebih dari 80       = baik

Pertanyaan : Adakah perbedaan yang berarti antara indeks kebugaran jasmani dengan perhitungan cara lambat dengan cara cepat ?
Catatan :
1.       Unuk cara cepat dapat digunakan daftar/tabel yang telah baku (lihaat karpovich 1953, 1958, 1971)
2.       Pengaturan bunyi metronom untuk irama 30x naik turun bangku agar ditera dengan stop watch
3.       Teman sekerja hendaknya selalu memperingatkan naracoba, bila dijumpai melakukan naik turun dengan irama yang tidak tepat atau sikap tubuhnya tidak benar
4.       Cara naik turun bangku dapat diatur keseragamannya dengan memberikan komando awal/pada waktu siap, salah satu kaki berada di atas bangku.

Semoga bermanfaat dan silahkan di praktekan


                                                                                                                           

0 komentar:

Poskan Komentar